Beranda Daerah Bengkulu Lumbung Suara Yang Dilupakan, Desa Kayu Elang Hingga Kini Masih Terisolir

Lumbung Suara Yang Dilupakan, Desa Kayu Elang Hingga Kini Masih Terisolir

1219
0
BERBAGI

SELUMA, WN – Desa Kayu Elang di Kecamatan Semidang Alas (SA), hingga kini masih tergolong salah satu desa terisolir dan ‘terabaikan’ di Kabupaten Seluma.

Pasalnya, dalam dua periode pemerintahan Bupati Seluma Bundra Jaya, akses jalan utama dari dan menuju desa tertua di Seluma ini hingga kini kondisinya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya serta sangat memprihatinkan.

Pantauan awak Wajah Nusantara (WN) di lapangan saat melakukan survey langsung ke lokasi ini, akses jalan tampak benar-benar sangat sulit dilewati, meskipun dengan menggunakan kendaraan roda empat sekalipun.

Total, dari sekitar 26 Km jalan menuju desa ini dari ibukota kecamatan yaitu Kelurahan Pajar Bulan, baru hanya sekitar 10 Km jalan yang sudah diaspal. Sementara, sisanya sekitar 16 km masih berupa jalan tanah setapak dengan komposisi batuan kerikil dan napal, yang bila hujan turun kondisinya tergenang lumpur dan lebih hancur lagi.

Menurut warga, dari dulu hanya satu harapan mereka, yaitu agar jalan menuju desa mereka segera diperbaiki (aspal – red). Karena warga sangat membutuhkan perhatian pembangunan infrastruktur jalan ini untuk mempermudah akses mereka sehari-hari, baik di bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan.

Menurut mereka, rata-rata warga hidup dari hasil pertanian, kelapa sawit, padi dan kopi. Sehingga mereka membutuhkaan akses jalan yang layak untuk memperlancar akses ekonomi, untuk menjual hasil pertanian mereka ke kota atau luar desa.

Salah seorang warga berinisial AR membenarkan bahwa kondisi ini sudah sejak lama mereka alami. Bahkan puluhan proposal sudah mereka ajukan ke pemerintah daerah agar jalan ini bisa segera dibangun, namun hingga kini masih seperti dianggap angin lalu oleh Pemerintah daerah.

“Kami sangat mengharapkan pembangunan akses jalan ini segera dapat direalisasikan dalam waktu dekat ini. Dan kami sebagai masyarakat desa terisolir, membutuhkan perhatian yang lebih dari pemerintah,” ungkapnya.

Dituturkannya, hingga kini akses jalan menuju ke desanya sangat sulit ditempuh menggunakan kendaraan. Hanya kendaraan dengan double gardan yang mampu melewati jalan ini. Bahkan, roda kendaraan harus ditambah dengan rantai serta wajib membawa persiapan dedak padi untuk menimbun jalan yang becek agar bisa menjangkau Desa Kayu Elang.

“Untuk sampai ke desa Kayu Elang, membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan jarak sekitar 26 kilometer dari ibukota kecamatan dari Kelurahan Pajar Bulan. Seluruh kendaraan roda dua apalagi di musim hujan ini, rodanya harus pakai rantai supaya bisa berjalan di badan jalan yang berlumpur,” ujarnya dengan pilu.

Sementara itu, dalam pantauan awak media WN juga, sepanjang jalan menuju desa Kayu Elang ini juga dipenuhi oleh hutan sawit yang dikelola oleh beberapa perusahaan pengolahan kelapa sawit, yang infonya milik salah seorang tokoh nasional dalam Pilpres tahun kemarin.

Selain itu, mayoritas kendaraan pengangkut sawit juga terlihat lalu lalang di jalan ini setiap hari. Namun, sepertinya, dari pihak perusahaan ini juga tekesan cuek dan tanpa perhatian dengan parahnya kondisi jalan tersebut. Padahal, setiap hari mobil-mobil pengangkut kelapa sawit mereka penuh muatan, berkisar 1 – 1,5 ton per satu kali angkut, yang secara tidak langsung juga memperparah kondisi badan jalan ini.

// Basis Suara Yang Terlupakan

Sementara itu, di sisi lain menjelang kontestasi politik, Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 mendatang, sepertinya dapat menjadi kesempatan dan angin segar bagi warga desa ini untuk kembali berharap agar jalan mereka segera dibangun.

Pasalnya, dengan jumlah penduduk sekitar 218 KK atau sebanyak kurang lebih 1.373 jiwa, desa ini memiliki mata pilih terbesar serta menjadi basis atau lumbung suara di Kabupaten Seluma, atau sekitar 700-an mata pilih setiap kali ada agenda pemilihan umum.

Hal ini juga dibenarkan oleh salah seorang warga setempat yang tak ingin namanya ditulis berinisial SO. Menurutnya, setiap kali ada Pilkada, desa mereka menjadi incaran utama oleh para calon untuk berkampanye dan mendulang suara politiknya.

Namun apa kata lanjutnya, setelah si calon terpilih jasa warga Desa Kayu Elang seakan terabaikan dan lupa dengan janji-janji manisnya dulu saat berkampanye.

“Setiap Pilkada, pasti banyak calon yang ke Kayu Elang untuk berkampanye. Karena di sini merupakan basis dan lumbung suara terbesar khususnya di Kabupaten Seluma dengan 700-an mata pilih. Baik pemilihan anggota Dewan (Pileg), Bupati (Pilbup), maupun Gubernur (Pilgub). Namun, berkali-kali juga kami akhirnya dilupakan setelah mereka (para calon – red) jadi atau memenangkan pemilihan,” ujarnya.

Bahkan, mantan Kepala Desa Kayu Elang, Rigun dalam sebuah pemberitaan media online lokal, pernah berujar bahwa dalam 50 tahun terakhir sejak desa ini ada, baru satu orang Gubernur Bengkulu, yaitu Rohidin Mersyah yang datang mengunjungi mereka, dan itupun kebetulan saat acara panen raya, Februari 2020 lalu.

Menurut SO, warga sengaja mengundang Gubernur dalam acara panen raya tersebut, agar Gubernur Rohidin bisa melihat langsung kondisi parahnya jalan menuju desa mereka.

“Di desa ini semua pejabat mayoritas sudah pernah kita undang, baik Bupati Seluma Bundra Jaya, maupun Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, namun hingga hari ini belum ada tanda-tanda keluhan kami selama ini digubris dan direalisasikan. Mudah-mudahan, baik Bupati Seluma dan Gubernur Bengkulu terpilih nanti, akan memberi perubahan bagi Desa Kayu Elang kedepannya.

Diketahui, hingga berita ini diterbitkan, pihak redaksi WN belum memperoleh tanggapan dari pihal terkait mengenai permasalahan ‘klasik’ jalan ini. Baik dari pihak Pemerintah Desa, Pemerintah Kabupaten Seluma, maupun Pemerintah Provinsi Bengkulu.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here