Beranda Daerah Bengkulu Massa Nyaris Bentrok, 4 Terdakwa Kasus Trawl Divonis 2 Tahun Penjara Plus...

Massa Nyaris Bentrok, 4 Terdakwa Kasus Trawl Divonis 2 Tahun Penjara Plus Denda Rp 100 juta

481
0
BERBAGI

Nelayan Tradisional Berharap Kapal Trawl Ikut Dimusnahkan

KOTA BENGKULU, WN – 4 terdakwa kasus penyalahgunaan alat tangkap ikan trawl akhirnya dijatuhi hukuman penjara masing – masing, 1 orang selama 2 tahun dan 3 lainnya selama 1,5 tahun dengan denda Rp 100 juta rupiah. Selain itu, diputuskan juga hasil sitaan yang berupa alat tangkap ikan akan dimusnahkan.

Vonis ini dibacakan oleh majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Bengkulu dalam sidang lanjutan perkara penyalahgunaan alat tangkap trawl, Selasa (23/02) siang dengan dua agenda sekaligus yaitu, mendengarkan Pledoi atau pembelaan keempat terdakwa dan pembacaan putusan yang dilakukan secara virtual.

“Sidang lanjutan hari ini ada dua agenda, yaitu mendengarkan pembelaan keempat terdakwa dan pembacaan putusan. Dalam hal ini pengadilan menyelenggarakan sidang secara virtual untuk mencegah terjadi kerusuhan. Keempat terdakwa mengikuti persidangan dari Lembaga Pemasyarakatan Bentiring, sementara Jaksa dari kantor Kejaksaan Negeri Bengkulu,” ujar pejabat Hubungan Masyarakat (Humas) PN Bengkulu Hascaryo.

Menurutnya, antisipasi dilakukan karena sebelumnya pada sidang pembacaan tuntutan, Selasa (16/2/2021) lalu, kelompok nelayan tradisional merusak sejumlah fasilitas di PN Bengkulu usai persidangan. Atas kejadian ini pihak PN Bengkulu pun telah melaporkan pengerusakan itu ke Polres Bengkulu.

Hascaryo mengatakan, pengerusakan aset negara itu terjadi setelah nelayan tradisional menolak tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) 10 bulan penjara dan denda Rp 100 juta terhadap nelayan pukat harimau (trawl).

Karena insiden perusakan itu, tambah Hascaryo, maka sidang yang mengagendakan pembacaan Pledoi kali ini dilakukan secara virtual. “Sidang dilakukan secara virtual untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan,” jelasnya.

Terpisah, Kasat Reskrim Polres Bengkulu, AKP Yusliadi menjelaskan, pihaknya menerima laporan perusakan ruang sidang yang disampaikan oleh PN Bengkulu. Selain laporan, pihaknya juga menerima sejumlah barang bukti.

PN Bengkulu ‘Dikepung’ Ratusan Massa

Sementara itu, di luar pengadilan, ratusan massa nelayan tradisional terlihat menerima putusan Hakim walaupun dengan sedikit kekecewaan. Mereka berharap bahwa kapal trawl dan hasil sitaan lainnya ikut dimusnahkan (dibakar).

“Intinya maunya nelayan adalah trawl itu berhenti beroperasi, percuma mereka diberikan hukuman seumur hidup pun, kalau trawl tetap beroperasi. Lebih baik mereka dibebaskan tapi trawl berhenti beroperasi,” kata Rusman, salah satu nelayan tradisional.

Dalam pantauan awak media Wajah Nusantara (WN), jelang pembacaan putusan perkara penyalahgunaan alat tangkap ikan (trawl) yang mendudukkan empat orang terdakwa ini, dua kelompok nelayan yaitu, nelayan trawl dan tradisional sempat melakukan unjuk rasa di depan gedung PN Bengkulu, Jalan S. Parman.

Kelompok nelayan trawl mendesak majelis hakim membebaskan keempat terdakwa. Sebaliknya, kelompok nelayan tradisional meminta majelis hakim menghukum berat keempat terdakwa.

Antisipasi Kerusuhan, Polisi Tutup Jalan

Diketahui sebelumnya, jelang sidang pembacaan putusan ini, polisi telah menutup ruas jalan di depan gedung PN Bengkulu untuk membatasi pergerakan dua kelompok nelayan yang berunjuk rasa.

“Penutupan jalan ini kami lakukan agar dua kelompok nelayan ini tidak bertemu dan mengantisipasi bentrokan,” kata Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polres Bengkulu AKP Enggarsyah Alimbaldi.

Dikatakannya, Polisi memisahkan dua kelompok nelayan tersebut dengan jarak yang cukup jauh untuk menghindari bentrokan. Massa dari kelompok nelayan trawl yang berjumlah ratusan orang tertahan di sekitar kawasan Simpang Sekip atau berjarak sekitar 300 meter dari gedung PN Bengkulu. Sedangkan, nelayan tradisional tertahan di sekitar kawasan Tugu Fatmawati Soekarno di Simpang Lima Ratu Samban.

“Ada 500 personel gabungan dari Polres Bengkulu dan Polda Bengkulu yang diterjunkan untuk melakukan pengamanan. Kami juga menyiapkan dua mobil water canon,” kata Enggarsyah.

Menurutnya, ada 4 himbauan Kepolisian kepada seluruh pengunjuk rasa dalam penyampaian aspirasi yaitu :
1. Tetap mentaati protokol kesehatan selalu memakai masker, menjaga jarak dan menjaga kebersihan
2. Menjaga ketertiban dan keamanan, jangan ada yang melakukan pelanggaran hukum
3. Sampaikanlah aspirasi dan pendapat dengan sopan dan baik, jangan sampai terprovokasi oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab
4. Jangan menyusahkan anggota masyakat lainnya, jaga kehormatan dan martabat kita sebagai anggota masyarakat.

Sekedar mengingatkan, sebelumnya ratusan nelayan Pulau Baai sempat melakukan aksi demo di Jalan Simpang Kandis, Sabtu (23/01) yang menuntut pembebasan empat orang nelayan yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Bengkulu atas kasus nelayan trawl yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah di perairan laut Bengkulu, dan juga terkait penganiayaan yang diduga dilakukan oleh nelayan tradisional terhadap 4 nelayan trawl beberapa waktu yang lalu.(ajh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here