Beranda Daerah Bengkulu Mega Proyek Rp 23 M di Seluma Terindikasi Korupsi, DPP KPPN Laporkan...

Mega Proyek Rp 23 M di Seluma Terindikasi Korupsi, DPP KPPN Laporkan Kontraktor ke Polda Bengkulu

548
0
BERBAGI
Lokasi proyek rehabilitasi irigasi Air Alas (doc:WN)

BENGKULU, WN – Ketua Dewan Pimpinan Pusat LSM Komite Pemantau Pembangunan Nasional (KPPN) Provinsi Bengkulu, Yoyon Markoni, Minggu (23/5/2021) lalu secara resmi melaporkan PT. Gentraco Laksono ke Polda Bengkulu, terkait adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam pengerjaan Proyek Rehabilitasi Jaringan Irigasi D.I Air Alas Kabupaten Seluma tahun 2017.

Foto besi penyangga dinding saluran irigasi.(doc/WN)

Proyek yang menelan dana Rp 23 milyar dan bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tersebut, menurut Yoyon berpotensi merugikan keuangan negara karena dikerjakan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang tertera dalam dokumen kontrak.

“Kita sudah melaporkan secara resmi ke pihak Ditreskrimsus Polda Bengkulu beserta pihak-pihak terkait lainnya tentang masalah pengerjaan proyek tersebut, karena dari data dan dokumen yang kita miliki kuat dugaan pengerjaan proyek ini terindikasi merugikan keuangan Negara,” kata Yoyon Markoni kepada wartawan Wajah Nusantara.com (WN), Selasa (25/5) siang.

Menurut Yoyon, laporan yang ia sampaikan kepada pihak Polda Bengkulu tersebut adalah terkait adanya indikasi korupsi dari pihak PT. Gentraco Laksono selaku kontraktor proyek, yang diduga dalam pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan merubah spesifikasi teknis yang tertera dalam dokumen kontrak.

“Dimana dalam dokumen penawaran lelang pada paket proyek tersebut, baik analisa harga satuan, maupun daftar kuantitas dan harga yaitu mengunakan besi polos atau ulir. Dan tidak ada satu kalimatpun dalam dokumen yang menyebutkan mengunakan besi wiremesh,” papar Yoyon.

Lebih lanjut Yoyon menjelaskan, patut dicurigai alasan apa yang membuat PT. Gentraco Laksono dalam pelaksanaan pekerjaan fisik di lapangan berani merubah sepesifikasi teknis pada item pekerjaan pembesian dari besi polos / ulir menjadi besi wiremesh.

“Sebab, perubahan sepesifikasi teknis dari besi polos/ulir menjadi besi wiremesh (pabrikasi) sangatlah tidak lazim dilakukan oleh kontraktor, karena secara kualitas atau mutu untuk perkuatan dinding saluran primer diragukan ketahanannya,” papar putra daerah asal kabupaten Seluma ini.

Ia pun berharap, agar aparat kepolisian dapat mengusut tuntas serta membongkar kasus ini, apalagi sebelumnya pihak Polda Bengkulu diketahui sempat pernah melakukan penyelidikan mega proyek ini. Diketahui, hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan dari pihak terlapor terkait kasus ini.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here