Beranda Daerah Bengkulu Miris, Gaji Guru Honorer di Bengkulu ‘Ternyata’ Masih Sangat Rendah

Miris, Gaji Guru Honorer di Bengkulu ‘Ternyata’ Masih Sangat Rendah

184
0
BERBAGI

BENGKULU, WN – Seorang guru honorer membagikan video slip gajinya di akun Tiktok @hermyyusita. Dalam video tersebut, tertera gaji kotor tertanggal 15 Agustus 2021 tersebut sejumlah Rp 315 ribu.

Capture Video tiktok Slip Gaji guru honorer (dok:@hermiyusita)

Dalam video yang sudah ditonton 383 ribu kali tersebut tertulis “Nasib Guru Honorer, Kerjaan Serius, Gajinya Main2…” Pos satir @hermyyusita tersebut merupakan bagian dari tren video viral yang memperlihatkan gaji dan saldo rekening pemilik akun.

Dalam slip gaji di video @hermyyusita, tertulis rincian honor yang terdiri dari honor kepala lab IPA sebesar Rp 150.000, honor mengajar 6 jam sebesar Rp 120.000, honor pengabdian nol, honor wali kelas nol, dan tambahan transport Rp 45.000. Gaji kotor tersebut dipotong dengan angsuran koperasi Rp 100.000 dan potongan sosial Rp 2.000, sehingga honor bersih yang diterima guru tersebut sejumlah Rp 213.000.

Hermy Yusita Sari, pemilik akun @hermyyusita tersebut menuturkan, video tersebut merupakan bentuk jeritan guru honorer sepertinya. Guru honorer yang sudah mengajar 11 tahun ini menuturkan, sejumlah kebijakan terkait sekolah berimbas padanya sebagai guru honorer di SMK swasta.

Alumnus S1 Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini mengatakan, salah satu kebijakan yang memengaruhi honornya sebagai pendidik adalah berubahnya mata pelajaran Biologi menjadi IPA Terpadu.

Hermy mengatakan, latar pendidikannya yang lebih berfokus pada Biologi membuatnya kemudian beralih mengajar kelas seni dan bahasa. Ia menjelaskan, kebijakan tersebut membuatnya mengajar seni sejak 2011-2021 dan IPA hingga sekitar 2015.

“Tidak menguasai fisika dan kimia, sehingga saya beralih mengajar kelas seni dan bahasa. Padahal kami ingin ilmu biologi ini terpakai hingga jenjang SMK. Begitu juga teman-teman lain, PJOK dihapuskan untuk kelas 3, sehingga mengajar kelas lain yang bisa diajar sesuai ilmu dan skill masing-masing, berbagi jam pelajaran,” kata Hermi, Rabu (25/8/2021).

Hermy menuturkan, ketidaksesuaian ijazah dan mata pelajaran yang diampu membuatnya sulit mendapatkan Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Sebagai informasi, NUPTK di antaranya berperan dalam proses pendataan pemerintah untuk merencanakan program peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, salah satunya tunjangan.

“Dan juga diprioritaskan (pengurusannya) yang negeri. Bukannya tidak ikhlas, tetapi di mana kemanusiaannya?” kata Hermy.

Hermy menuturkan, ia masih merasa beruntung karena mendapat honor sebagai Kepala Lab IPA di sekolah sebesar Rp 150.000. Ia mengatakan, posisi ini didapatkannya melalui evaluasi kinerja di sekolahnya.

Hermy menuturkan, untuk memperoleh pendapatan lebih, ia sempat bekerja sebagai tenaga pendidik di SMK negeri pada 2019-2021. Ia mengatakan, dengan mendidik di sekolah negeri, ia bisa mendapatkan tunjangan dari pemerintah daerah sekitar Rp 1 juta dan berkesempatan diangkat menjadi guru tetap.

“Tapi ternyata tidak dapat, katanya belum setahun. Dan pengajuan (untuk jadi guru tetap) juga sulit,” kata Hermy.

Ia mengatakan, sementara itu persaingan mengajar Biologi di SMP dan SMA negeri juga tidak mudah. Hermy mengatakan, gaji guru di sekolah negeri bisa mencapai Rp 30-50 ribu per jam. Tetapi, menurut Hermy, para guru ASN termasuk yang sudah tersertifikasi juga berebut jam pelajaran. “Di (sekolah) swasta juga ada sertifikasi (guru) honorer, tetapi sulit,” kata Hermy.

Hermy menuturkan, untuk meningkatkan kesejahterannya, ia juga sudah 4 kali ikut seleksi CPNS dan tahun ini PPPK. Hermy menuturkan, ia tetap mengambil sekolah di luar domisilinya di Kota Bengkulu agar dapat mengajar Biologi kendati harus menempuh perjalanan lebih jauh dari sekolah saat ini. Ia mengatakan, sekolah tempatnya mengajar saat ini berjarak sekitar 14 kilometer dari rumah menggunakan motor pemberian orang tuanya.

“CPNS 4 kali tidak jebol, PPPK tahun ini ambil sekolah di luar Kota Bengkulu, di Kabupaten Kepahiyang, 2,5 jam perjalananan jaraknya . Ambil di sana karena ada mata pelajaran Biologi karena SMK-nya ada Tata Boga dan Pertanian, meskipun jamnya sedikit,” kata Hermy.

Hermy menuturkan, ia semula mengambil kuliah Pendidikan Biologi untuk menjadi pendidik. Di samping itu, menurutnya dahulu prospek profesi guru akan baik karena dibutuhkan di tiap daerah dan bisa menjadi guru tetap.

Perempuan kelahiran Manna, 30 Mei 1988 ini mengatakan, untuk mencukupi kebutuhannya dan kedua anaknya yang masih kecil, ia memanfaatkan skill-nya di luar mengajar. Hermy menuturkan, sebelum pandemi, ia menjadi tukang make up keliling untuk wisuda dan pernikahan, membuka katering nasi kotak, berjualan pakaian keliling, marketing makanan dan pakaian teman-temannya, sampai menjadi wartawan di media online.

Ia menuturkan, selama bekerja, dua anaknya kini kelas 3 SD dan yang usia 4 tahun dititipkan pada orang tua dan keluarganya.

“Setelah pandemi, habis semua, sisa yang bantu pasarkan baju atau makanan teman. Saya buat video viral ini karena buntu akal, ke mana lagi harus mengadu,” kata Hermy.

Hermy menuturkan, siswa di tempatnya mengajar dahulu punya ribuan siswa kelas 1-3. Tetapi, menurut Hermy, sistem zonasi dan perkembangan sekolah lain turut mempengaruhi penghasilannya sebagai guru di sekolah swasta.

“Kini hanya 90 anak dari kelas 1-3, sementara pendapatan dari SPP siswa. Karena itu saya tidak paksakan siswa membayar SPP tiap bulan, karena anak saya juga merasakannya. Biaya kebutuhan sekolah masih dibantu ibu, kakak, dan adik-adik saya,” kata ibu dua anak ini.

Hermy berharap, kesejahteraan para guru honorer di Indonesia sepertinya dapat disamaratakan dengan guru dan tenaga pendidik lainnya.

“Berharap sekali bisa disamakan dengan yang negeri, dengan yang linier mata pelajarannya. Dan berharap nasib sarjana Pendidikan Biologi ini jadi baik, karena studi kami fokus di Biologi. Kami sama-sama mendidik, tugas kami sama, mengapa nasibnya berbeda,” kata Hermy.(**) Artikel ini telah tayang di detikcom/edu berjudul: “Viral Gaji Guru Honorer Rp 315 Ribu, Ini Kisahnya Perjuangkan Kesejahteraan”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here