Beranda Daerah Bengkulu Pemalsuan Dokumen Rapid Antigen Terbongkar, RSUD Tais – DPUPR ‘Buru-Buru’ Berdamai

Pemalsuan Dokumen Rapid Antigen Terbongkar, RSUD Tais – DPUPR ‘Buru-Buru’ Berdamai

78
0
BERBAGI

Masyarakat Minta Polisi Usut Kasus

SELUMA, WN – Pasca terungkapnya tindak pemalsuan dokumen hasil tes rapid antigen oleh dua ASN di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Seluma beberapa waktu lalu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tais, dr. Wiwin Herwini akhirnya mengakui kebenaran hal tersebut.

Bahkan, RSUD Tais dan DPUPR Seluma akhirnya sepakat berdamai untuk tidak memperpanjang masalah ini. Pengakuan dr. Wiwin tersebut disampaikannya dalam kesepakatan perdamaian antara pihak RS Tais dan DPUPR Seluma, Selasa (05/10/2021) lalu.

Sementara, oknum Pegawai Tidak Tetap (PTT) RSUD Tais yang diduga melakukan pemalsuan dokumen tersebut saat ini menurutnya sudah diberikan sanksi. “Oknum PTT tersebut sudah meminta maaf karena sudah memalsukan hasil rapid antigen, dan antara kami (RSUD dan DPUPR, red) sepakat berdamai dan bersepakat diselesaikan secara kekeluargaan,” ungkap dr. Wiwin kepada wartawan.

Ditambahkannya, perbuatan pemalsuan dokumen yang dilakukan oknum pegawainya itu, merupakan ketidaktahuan dari yang bersangkutan akan dampak atas perbuatannya tersebut. “Yang dilakukannya merupakan ketidaktahuannya, dan saat ini sudah kita sanksi, serta sudah membuat pernyataan permohonan maaf, jika masih mengulangi akan dirumahkan,” tegas Wiwin.

Di pihak lain, Kadis PUPR Seluma, M. Saipullah turut menegaskan bahwa permasalahan ini sudah selesai dan mereka sepakat berdamai, karena ini merupakan kelalaian kedua belah pihak dan tidak ada yang dirugikan. “Untuk internal kita (PUPR, red) sudah saya warning agar tidak mengulangi hal serupa lagi dikemudian hari. Yang jelas permasalahan ini sudah selesai dan kami sepakat untuk berdamai,” ungkapnya.

Agustam Rahman : Usut Tuntas, Daripada sampai ke Telinga Kapolri !!

Terpisah, salah seorang warga Bengkulu yang juga praktisi hukum serta peneliti, Agustam Rahman, SH, MAPS, menanggapi dengan serius dan cukup terkejut dengan tidak dilaporkannya kasus pemalsuan dokumen sweb antigen tersebut ke polisi. Menurutnya, walau pihak rumah sakit tidak mau melapor, namun polisi harus segera mengusut.

‘’Kalau rumah sakit tidak melapor, kita curiga ada apa. Apa ada yang mau dilindungi atau diselamatkan. Seharusnya, pihak RS Tais melapor ke polisi membuktikan adanya pemalsuan dan menghukum pelaku. Namun demikian, walaupun pihak rumah sakit enggan melapor, pihak kepolisian seyogyanya harus segera mengusutnya. Jangan nanti kasus ini sampai ke Kapolri dan Kapolri marah, karena konsennya sekarang kan ke pemberantasan Covid 19,’’ tegasnya.

Ditambahkannya, kalau ini tidak diproses, maka juga akan menjadi contoh buruk di masyarakat. ‘’Masyarakat akan kembali mengulanginya serta melakukan pembuatan hasil sweb sendiri. Dampaknya akan sangat berbahaya terhadap penyebaran virus Covid-19. Kapan Pandemi ini akan berakhir jika begini,’’ sesal Agustam.

Dikatakan Agustam, pemalsuan adalah pidana murni, bukan delik aduan. Sehingga wajib hukumnya polisi mengusut tuntas. “Ini harusnya sudah diusut polisi dan memanggil pihak-pihak yang terkait. Saya akan kawal terus kasus ini supaya naik. Kami akan menyampaikan hal ini ke pusat. Saya yakin Kapolri akan marah besar, jika Polres Seluma atau Polda Bengkulu mendiamkan kasus ini,’’ jelasnya.

Ia juga melihat ada beberapa pasal yang bisa dikenakan kepada para pelaku. ‘’Ini kejahatan berat. Bisa disangkakan pasal 263 ayat 1 KHUP. Pemalsuan surat ancaman hukumannya 6 tahun. Lalu si pembuat juga bisa dijerat dengan pasal 267 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun,’’ bebernya.

Selain itu menurutnya, juga patut diduga terjadi suap menyuap sehingga surat tersebut keluar. ‘’Jadi bisa juga dijerat dengan pasal 5 UU Tipikor No 20 tahun 2001 dengan ancaman hukuman 5 tahun,’’ jelasnya.

Diketahui sebelumnya, pemalsuan tersebut terungkapkan pada Senin (27/9) ketika Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Fatmawati Bengkulu, membatalkan keberangkatan dua Kabid di DPUPR Seluma berinisial Am (46) dan WG (43). Saat itu, keduanya hendak melakukan perjalanan Dinas Luar (DL) ke Jakarta, kemudian hasil pemeriksaan dibandara ternyata hasil rapid antigen palsu dan kemudian keberangkatan dibatalkan.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here